Ini sungguh sebuah “kecelakaan” yang tak patut ditiru siapa saja. Jauh-jauh hari, saya sudah tahu dan sudah diwawancarai oleh wartawan Koran Tempo tentang wabah buku blogger. Bahwasanya, semua materi wawancara itu akan dimuat pada Koran Tempo edisi hari Minggu 25 Mei 2008, saya sudah mahfum. Tapi, saat tiba harinya, isi kepala entah ke mana. Sorenya, baru ingat bahwa… saya perlu menengok Koran Tempo. Apa daya, terjadi sesuatu dan lain-lain hal, saya tak berhasil mendapatkannya. Padahal, dulunya KT melimpah dijajakan dengan harga khusus supermurah di pojokan per4an.
Alhasil, saya cuma nemu judulnya di website KT, secara artikelnya di-protect. Hiks. Sedih bener, tak bisa membaca laporan liputan tentang buku blogger itu. Baiklah, barang kali sudah takdiran nasib bagi saya untuk tidak punya kesempatan mengembangkan hidung narsis untuk membacanya. Secara hasil tes psikologi saya ini berjenis orang di balik layar. Pekerjaan saya, sebagaimana dikatakan oleh seorang penulis terkenal, tak lebih [atau tak kurang???] dari seorang “dukun beranak”. Misinya jelas: melahirkan penulis! Nasibnya jelas: di belakang layar!
Yasudlah, itu tak menambah kesedihan sejengkal pun, karena hari ini menyimpan kesedihan tersendiri. Bayangkan, kalau Anda bisa, bagaimana saya menghadapi 3 dilema sekaligus: [1] 28 Mei dimulai pameran Kompas Gramedia Fair di Jokja, [2] 29 Mei teman2 pada tumplek di Semarang untuk memberikan pelatihan penulisan, dan [3] 31 Mei di Surabaya akan berlangsung workshop seksi SEO Gak Ribet! – Start Up Guide to SEO yang disampaikan oleh pakarnya.
Coba, “ke mene kakiku kudu melangkah?” Hayo, tolong dijawabkan kalau bisa

June 3, 2008 at 3:23 pm |
Minta ke NdoroKakung saja