“Banyak jalan menuju buku”. Itu sudah seumumnya kita dengar. Telah banyak testimoni bagaimana lika-liku seseorang bisa menerbitkan buku. Ada yang menempuh jalan panjang, tidak kurang pula yang berproses secara instan. Bak susu siap saji, minus cemaran melamin tentunya.
Pasca runtuhnya Orde Baru, pengarang berhamburan keluar entah dari mana. Bagai grudukan binatang turun kala gunung berapi bergejolak. Atau, seperti barisan pengungsi berhamburan tatkala Tai Lung datang menyerang, sebagaimana bisa kita saksikan di film Kung Fu Panda.
Namun, tidak banyak orang yang memandang sisi sebaliknya, yaitu menghargai buku sebagai titik pijak, portfolio, kartu nama, tiket, atau passport untuk menuju ke sesuatu. Karena pola pikir yang lazim adalah “aku sudah/lebih besar daripada buku”. Maka, selebihnya buku terkadang bernasib tak lebih seperti apa yang sering kita dengar pada guru, sebagai “pahlawan” yang kurang dihargai.
Seumur jagung saya bermandikan buku, baru dari seorang Agus Hery saya pernah mendengar kata-kata sebaliknya itu, “karena buku….” Penulis buku Meraup Dollar Lewat Blog ini, dalam suatu kesempatan bercakap, bercerita bahwa karena buku… ia sering diundang talkshow, pembicara seminar, mengisi acara di radio, bahkan berkesempatan muncul di TV bersanding dengan seleb dalam acara Welcome To BCA pada 25 September 2008.
Memang buku, sebagaimana guru, sudah selayaknya mendapat apresiasi yang lebih baik. Oleh siapa lagi, kalau bukan kita, makhluk yang katanya beradab ini.
September 25, 2008 at 1:13 am |
Selamat syuting ya, kang. Moga2 lancar..
September 26, 2008 at 10:44 am |
wah, ada blogger masuk tipi…
kapan giliran gw yak? *pede*
September 29, 2008 at 1:55 am |
@Olin: maunya kapan, hayoo??
September 29, 2008 at 7:59 am |
*tersipu-sipu*
September 30, 2008 at 4:32 am |
@Olin: sukurlah ga tersapi-sapi