Demokrasi adalah sebuah sistem. Kalaupun dianggap terbaik, tetaplah ia bukan jawaban segalanya. Sebagaimana jamaknya di lain ladang, maka sistem ini pun dipake untuk menentukan kelayakan terbit, judul, dan cover sebuah buku di Gradien. Keputusan tertinggi itu di forum, kasarannya pake sistem pilihan terbanyak. Tak seorang pun boleh otoriter di sini, meski ge-er tetep tak dilarang. Karena, sejago-jagonya redaksi, ia tetaplah tak punya mata seorang pemasaran yang telah meng-install ribuan buku per tahun. Begitu juga sebaliknya, selihai-lihainya pemasaran, redaksilah yang paling tahu tentang isi naskah tersebut. Maka, perkawinan kedua pihak ini sungguh baik hati dan tidak sombong. Tak heran klo banyak pengarang yang menerima jawaban begini saat nanya posisi naskahnya: blum selesai brantem, masih bakalai.
Hasil “brantem”nya bisa panjang berjilid-jilid dan menimbulkan korban. Salah satu korban yang tereak-tereak sambil keciprit lari ke arah jalan menuju Komnas HAM adalah pengarang ini. Dia menolak habis-habisan atas pilihan cover yang dijatuhkan pada gambar di samping ini. Dia merasa dinistakan sedemikian rupa karena profilnya dibuat sedemikian guanteng tak terkira. Padahal, dia sangat yakin-kin, cover yang mewakili profil dirinya yang kayak orang cacingan itu adalah cover kedua dari antara tiga pilihan di sini.
Bak pahlawan yang pejuang sejati maju tak gentar membela yang benar, dia berusaha menggugurkan pilihan ini lewat berbagai alat pernafasan buatan. Namun, semua tak tergoyahkan. Sungguh terpaksa ia jadi “pejantan letoy” karena dengan enteng saya menjawab: Itu hasil suara terbanyak. Gimana kamu mau menang klo melawan segerobak awak yang memilih ini?
Akhirnya, tak terjadi pertumpahan darah sebagaimana diduga. Semuanya dapat diselesaikan dengan baik-baik dan damai di meja hijau, tanpa perlu memberlakukan hukum rimba apa pun. Pengarang yang memang krempeng, baik hati, dan rajin menabung ini pun bisa berpasrah diri menerima nasib untuk tampil guanteng melebihi aslinya di bukunya ini. “Firmansyah, ehh Krismansyah… piss deh” hehehe.
Ini hanyalah bagian sangat kecil pembelajaran untuk calon pengarang di mana pun Anda berada yang kebetulan membaca posting lebay ini. Semoga Anda bisa memetik buah dari semak-semak kata di sini, bahwa naskah Anda tidak diperlakukan secara murahan kok. Melainkan mendapat tempat terhormat untuk didiskusikan sebagaimana rapat-rapat genting para petinggi negara mana pun hari-hari ini dalam mendiskusikan krisis finansial dunia.
October 14, 2008 at 1:36 pm |
Hakakakak
btw Jurja-nya udah terikirm kok Pak, di email yang gradien ituh… yang terakhir dipake buat email2an *halah*
hihihi. Btw ngeliat postingan Pritha…wah alamat gagal total secara mirip *ngakak*
Piss piss…
October 14, 2008 at 3:00 pm |
jahhh… jadinya yang ketiga yak?
*keik yang punya buku ajahh*
tapi gapapa deh, dari postingan lebay ini aku jadi bisa belajar banyak, in case besok2 diriku ini jadi penulis buku juga, jadi ngerti apa yang mesti dilakukan. pastinya bikin jadwalrapat-rapat buat mendiskusikan cover buku kan? ahaahaha
October 15, 2008 at 1:45 am |
@ 2tea: wah payah, ga pede amat sih?
@ carol: emg klo bikin buku minatnya nulis apa??
October 15, 2008 at 6:44 am |
hihihi
) berusaha pede dengan modal minim… sebetulna masih ada tulisan laen yang mo ta kasih liat ke pak Khun. tapi nanti aja deh *halah*
October 15, 2008 at 7:11 am |
Hwahahahaha.
Kasihanilah hambamu ini ya Allah *nangis dibawah kucuran shower sambil jerit-jerit*
October 15, 2008 at 7:45 am |
[...] Mengenai hal itu, biarkan saja Mas ini yang bercerita. Goyang Neng! [...]
October 15, 2008 at 8:50 am |
@ 2tea: halah! kok ga pede. Cepetan krm utk didiskusikan
@ Kris: …lalu terjun ke Niagara? nasebbbb :p