Kapan tanggalan menjadi merah lagi?
Kapan merahnya cukup panjang lagi?
Ini tak ubahnya seperti pertanyaan yang sering diajukan oleh kanak-kanak yang menjalani hari-hari bersekolah dengan susah payah. Atau, orang-orang kantoran yang babak belur diimpit tumpukan tugas dengan penyanderaan pelototan mata bos yang tak mau pergi-pergi. Tapi bukan, ini hanya sekadar pertanyaan retorika, yang patut diajukan atas nama kesehatan mental untuk mendapatkan ruang guna meraih oksigen untuk bernapas. Hanya itu, sekadar begitu…
Libur panjang lebaran yang lalu, sudah berlalu kian jauh ditinggalkan di belakang. Tapi, hingga hari ini, saya belum juga menjalani “libur lebaran” itu. Entah kapan terbayarnya. Hari-hari, terasa hanya mengurusi break untuk membuat dingin komputer, dan kepala, dan juga hati. Setelah itu, lanjut lagiii.
Jadi, memang, pertanyaan di paling atas itu, ga usah dipedulikan amat. Hanya untuk me-reduce tension. Sekadar katarsis agar tak terjadi hang. Tidak lebih dari itu.
Update 12:02 PM 10/17/2008:
Belum lama berselang, seorang kawan bercerita bahwa ia dan teman-temannya baru saja pulang dari berlibur selama seminggu di sebuah pulau wisata, untuk “membayar” liburan lebarannya. Tampaknya, ada banyak lagi orang-orang yang menyimpan “utang” ini, entah kemudian dilunasi atau cukup dibawa ke alam mimpi.
October 17, 2008 at 11:03 am |
wah, klo pak khun mah ud ga repot nunggu tanggal merah kerna pak khun bisa membuat tanggal merah sendiri kan? mo libur kapan tinggal di atur aja jadwalnya, kan? yuk, liburan ke yogya, pak… kan katanya “BALI WAE NING DJOKJA”? huahuahauha…