gigigigi

By morningdew

Saya tumbuh besar di dalam sebuah keluarga yang tidak mengurusi gigi, di sebuah kota yang tidak punya dokter gigi. Tak ada waktu untuk memberi perhatian pada begituan, karena tiap-tiap hari semua orang sudah dibuat sibuk untuk urusan mencari nafkah agar dapur tetap bisa ngebul, anak-anak bisa bersekolah, dan tidak sakit perut akibat lapar. Dan tampaknya, demikianlah selazimnya semua penduduk yang berjumlah sedikit di kota yang seupil itu.

Apa yang terjadi bila gigi seorang anak mulai joget dan harus dicabut? Di dalam keluarga saya, kami datang pada nenek kami, untuk digiatkan jingkrak giginya lalu diikat benang dan ditarik-cabut, makyuss…. Tradisi ini sepertinya yang melahirkan gojekan berikut. Apabila Anda ingin mencabut gigi dengan cepat tapi sakit, ikatkanlah benangnya pada daun pintu, lalu daun pintunya diayun-bantingkan sekuat tenaga. Apabila Anda ingin mencabut gigi dengan lembut tanpa rasa sakit, ikatkanlah benangnya pada seekor keong.

Maka, yang terjadi selanjutnya adalah adegan sebagai berikut: Kepala dikempit dalam pelukan ketek, lalu benang ditariksekuat tenaga sampai giginya tercabut. Darah berlumuran. Disumbat pake kapas hingga berhenti dengan sendirinya. Lalu, terjadilah… gigi atas dibuang di kolong ranjang, gigi bawah dibuang di atas ranjang (catatan penting: ranjang jaman itu di-packing dengan kelambu, jadi giginya bisa nyantol di area parkir dak atas ranjang).

Itulah sebabnya saya tidak banyak berurusan dengan dokter gigi. Malah, bertemu dengan dokter gigi itu berkesan menyeramkan bagi saya. Bagai berkunjung ke istana grakula. Tapi, malang tak dapat ditolak, untung itu nama anak sapi tetangga. Apes nian, saya ketiban mengedit 1 buku yang melulu bicara tentang gigi, karya seorang mahasiswa pergigian. Mulanya sih ngilu-ngilu gimana, seterusnya… ketagihan. Karena ternyata cerita-cerita di dalamnya itu gokil punya. Tidak ada pertumpahan darah.

Sungguh… buku ini enak dibaca oleh siapa saja; baik yang benci pada dokter gigi maupun yang amat rindu padanya. Malah, ini bagus untuk menjadi buku pintar heboh pergigian maupun untuk anak-anak agar tidak takut pada dokter gigi lagi–karena apa yang terjadi di klinik gigi itu tidak kalah gokilnya dengan tontonan komedi di tipi-tipi. Maka, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh siapa saja makhluk bergigi, termasuk aki-nini yang sudah ompong.

One Response to “gigigigi”

  1. caroline Says:

    ud rasanya ud berabad2 ga ke toko buku…
    nih buku ud terbit kan, ya??
    btw, covernya bagus loh, pak…
    mewakili kejadian gokil ttg dunia pergigian…
    bekgron itemnya juga nambahin kesan elegan… jadi kesannya buku ini ttg guyonan dodol dunia pegigian yang disampeikan dengan elegan dan ga norak.
    (haduhh ngomong opo to??? berasa keik yang ud jd pengamat cover buku ajahh… :P )

    jadi penasaran pengen baca…

Leave a Reply