Archive for the ‘tentang diri’ Category

narses dikit,,,

May 29, 2008

Lebih baik narses daripada narkoba“, begitulah semboyan pertama, utama, dan terutama para blogger, terlebih dalam rangka meniti tangga karir menjadi Leblog (selebriti blog) :D Karena narkoba jauuuh lebih ueeelek daripada narses, maka sudilah mata Anda disajikan posting narses ini. Bilamana daripada hasil membaca ini katarak Anda kumat atau kian parah, segeralah ke dokter hewan, itu semua di luar tanggung jawab siapa pun.

Ini posting lengkap dari Koran Tempo edisi 25 Mei 2008 yang terbit pada hari itu juga, dengan judul Blook: dari Blog ke Buku: WABAH BUKU BLOG. Sila dibaca, lebih enak sambil menyeruput segelas kopi n mengemil sekarung kuaci :D

(more…)

larut di esplanade

May 3, 2008

Malam menuju larut ketika saya diajak ke Esplanade. Sebuah lokasi yang tak perlu diurai di sini, kecuali klik saja di sini bagi yang penasaran. Mata kita mengenalinya sebagai gedung durian. Kami pun menelusuri selasar, mencari lokasi hang out yang nyaman, tapi hanya tempat nongkrong dengan makanan ringan. (more…)

memulai lagi

April 23, 2008

Setelah berjalan menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, dan sebelum finish tergapai, tiba-tiba harus memulai lagi dari awal??? Iihhh… kata anak-anak abegeh saiki: Capee dehhh!

Memang tak tertolong. Hilanglah. Relakan saja perginya posting sejak tanggal 8 hingga 17 April 2008 (dan empat posting yang telah terjadwal untuk tayang sampai tanggal 21 April) berjumlah total [kalau tak salah] kisaran 140 posting. Telah lenyap begitu saja. Perlahan memang, tapi pasti. Mula-mula tampilannya, lalu judul-judul posting yang berubah menjadi angka-angka, lalu lenyap sama sekali… seperti kabut teramat tipis di pagi hari yang telah susah ditemukan namun segera diusir kasar oleh kesibukan pagi.

Tapi, tapiii… mengingat visi-misi hidup yang belum tercapai, selalu ada seribu burung layang-layang yang terbang menyampaikan pesan untuk pantang menyerah; untuk mengepalkan tangan guna memacu diri; lagi, dan lagi, dan lagi. Yaa, pada akhirnya memang saripati hidup terletak pada: Memilih. Memilih dengan huruf M kapital.

Dan pada akhirnya, saya Memilih untuk kembali mengisi blog ini lagi; melupakan tragedi 140 posting yang lenyap, dan melangkah kembali di antara puing-puing yang masih berserakan di hati. Semoga, yaa semoga saja langkah ini bisa menjadi ringan lagi.

Imlek & Kultur

February 7, 2008

Abun Sanda, wartawan harian Kompas yang menuliskan artikel China, Kultur dan Kerja Keras dalam edisi khusus Imlek (5/2/8), seakan sebagai resume menyatakan bahwa ada tiga hal tentang China yang agaknya kurang diperhatikan publik dunia. Baik pemerintah maupun rakyatnya mempunyai talenta kuat sejak zaman peradaban manusia. Talenta itu adalah:

  • kultur bisnis
  • kultur kerja keras
  • kebanggaan akan negaranya

Saya tidak tahu-menahu mengenai poin ketiga, namun menyaksikan peragaan atas poin 1 dan 2 dalam kehidupan keluarga saya. Sekilas pintas yang saya tahu, kakek-nenek saya adalah manusia perahu, terdampar jauh di pedalaman pulau Sulawesi. Suatu masa, api melalap semua harta benda yang tak seberapa. Dan hidup harus dimulai dari nol.

Ayah saya dan adik-adiknya, berhenti sekolah di kelas-kelas awal Sekolah Rakjat (SD) dan mengubah apa saja untuk dijadikan sumber penghidupan. Antara lain, mengubah kaleng-kaleng kosong bekas susu atau apa saja untuk dijadikan corong (untuk mengisi minyak tanah atau minyak kelapa ke dalam botol) dan dijual ke pasar. Atau kisah lain, ayah saya harus menempuh jarak sekian kilometer naik sepeda ke desa-desa di pedalaman untuk membeli minyak kelapa (baca: minyak goreng) untuk kemudian dijual lagi di “kota”. Tak mengenal malu, tak mengenal lelah.

Kultur bisnis muncul sebagai akibat keterjepitan keadaan. Kultur kerja keras juga demikian. Uji nyali telah mereka lampaui dengan menaiki perahu dan terapung-apung di lautan luas demi mencari sumber penghidupan yang baru. Dengan demikian, saya dapat melihat dengan jelas bahwa kedua kultur ini bernilai universal. Bukan hak milik tunggal orang China.

Jikalau demikian ending-nya, maka siapa pun kita, dengan etnis apa pun, dapat mengadopsi kultur ini sebagai suatu “kehendak bebas”. Barangkali yang menjadi pembeda adalah, seberapa rela kita menyingsingkan lengan baju dan mengucurkan keringat, bahkan darah, untuk menggapai sesuatu yang mulia bernilai jangka panjang, bukan demi kesenangan sesaat.

Ya, sesederhana itu, sesungguhnya…