Ujian kesabaran itu bisa dirayakan di mana saja, kapan saja, dan dengan kejadian apa saja dalam kehidupan ini. Dalam skala besar dan tak jarang lebih sering dalam skala imut-imut. Itu yang dapat saya amati dan alami sesering mungkin. Sebelum wiken kemaren tiba misalnya, telah datang contoh buku ini yang masih anget karena baru saja terbit. Belum juga berlama-lama membukanya secara sepintas beberapa halaman, sudah diminta lagi oleh rekan untuk dikirimkan ke penulis, desainer cover, dan kartunis sebagai bukti terbit. Katanya, jumlah buku yang tiba kurang, jadi buku yang saya pegang itu harus rela disita lagi dengan atau tanpa paksaan.
Padahal, hikss.. sudah menjadi kebiasaan yang jamak terjadi pada siapa pun dan produk apa pun, sebagai “pembuat” kita akan dibuat penasaran untuk menimang-nimang hasil akhir buatan kita itu. Apalagi wiken sungguh pas untuk membaca-baca ulang buku itu, sambil mereview error-error yang mungkin tercecer di mana-mana. *Kebayang gak sih nikmatnya sebuah minggu pagi yang cerah duduk dengan mata malas dan badan bau asyem-asyem-manis gimana gitu.. membaca buku itu sambil menghirup kopi instan yang hangat mengepul??
Tapiii, ya naseb… bukunya disita dengan nista. Berarti saya harus (belajar) sabar untuk menunggu… mengajukan permintaan tambahan buku lagi. Mau gimana lagi toh? Masak mau difotokopi? Hidih, ini sungguh akan menjadi lebih lucu dari tingkah pola para pelawak siapa pun di tipi mana pun. Jadi, yasudlah… belajar nrimo dan sabar, karena toh ujian selalu bermanfaat untuk kenaikan kelas. Iya kan?, iya kan?? *hayuk, belain perasaan gw duong, huehehe