“Frozen” Mengajarkan “Darah Lebih Kental Daripada Air”

Frozen“Frozen” menandai comeback Disney Pictures ke dunia film animasi dan kembali ke pangkuan “keluarga”. Perusahaan yang didirikan oleh Walt Disney dan Roy O. Disney pada 16 Oktober 1923 dan mengakuisisi studio animasi Pixar milik Steve Jobs pada 2006 ini, mengantar “Frozen” masuk dalam 10 nominasi Annie Award bersama film animasi “Monsters University”. Annie Award adalah sebuah ajang bergengsi penghargaan untuk film-film animasi.

Terlepas dari kemasan teknis mengagumkan yang tidak perlu dibahas di sini karena akan berkepanjangan dan tidak menjadi esensi artikel ini, film ini layak ditonton untuk semua umur karena mengusung kisah yang sangat inspirasional, menghangat hati, dan mengantarkan spirit serta nilai-nilai kekeluargaan yang abadi.

“Frozen” adalah sebuah epik animasi bergenre fantasi-komedi yang bercerita tentang kehidupan keluarga kerajaan Arendelle yang dianugerahi dua putri, Elsa dan Anna. Si sulung Putri Elsa dikarunia kemampuan menciptakan es dan salju yang dengan kemampuannya ini tanpa sengaja mencelakai adiknya, Putri Anna. Kemampuan ini akan kian berkembang dan diasumsikan akan jahat tak terkendali. Dari sinilah cerita film ini kemudian dibangun.

Dua pembelajaran penting diantarkan karya besutan sutradara Chris Buck dan Jennifer Lee bagi siapa saja, semua umur, semua lapisan masyarakat, melalui kemasan yang terkesan ini sekadar film anak-anak.

Pertama, “masalah haruslah dihadapi”–bukan dihindari. Ketika suatu malam kedua putri ini sedang bermain dan Putri Elsa tanpa sengaja melukai Putri Anna, Raja dan Ratu membawa mereka untuk berobat ke sejenis makhluk bernama Troll. Setelah disembuhkan, solusi diambil agar kejadian yang sama tidak terulang dengan cara menutup pintu kerajaan dari pihak luar dan Putri Elsa diisolasi di dalam kamar. Pada akhirnya, hanya tinggal waktu ketika sisi jahat dari kemampuan Putri Elsa memakan korban lebih luas.

Melalui pergulatan yang tak mudah, ketika masalah ini terhampar dan Putri Elsa tiba pada titik harus menghadapinya–alih-alih menghindarinya–solusi pun hadir. Hasilnya, kemampuan ini dapat dikendalikan oleh Putri Elsa. Bergerak dari momok dan hantu yang menakutkan, menjadi anugerah yang indah dalam kehidupannya.

Kedua, yang menjadi premis dari kisah yang kaya akan twist dan gimmick ini adalah bahwa “darah lebih kental daripada air”. Premis ini menjadi puncak yang indah dan melegakan, bahwa hubungan darah sebagai kakak dan adik, memiliki ikatan yang jauh lebih kuat dari hubungan apa pun di luar kekerabatan keluarga yang ada di dunia ini.

Ketika tanpa sengaja Putri Elsa melukai bagian paling mematikan dari tubuh adiknya, yaitu jantung yang akan beku dan membekukan sekujur tubuh Putri Anna sebagai ajal yang tiba, ia hanya bisa disembuhkan oleh hadirnya cinta sejati. Dan film ini menjawab tegas, bukan oleh kasih eros, melainkan philia.

Rasa-rasanya, nilai ini telah lama tidak dipopulerkan. Itu sebabnya bagian ini menjadi sangat kontekstual dalam menyampaikan pesan edukatif terutama kepada para remaja yang biasanya melihat kenyataan bahwa teman cowok mereka lebih mencintainya daripada saudara kandungnya sendiri. Sudah terlalu sering kita menghadapinya dalam kehidupan sehari-hari bahwa bagi seorang anak bahwa di sekolah ia memperoleh teman yang asyik sementara di rumah ia mendapatkan teman bertengkar (saudaranya sendiri). Tentu pesan ini amat melegakan para orangtua, terutama yang mengalami kesulitan dalam mengakurkan hubungan antaranak.

Maka, dengan dua pembelajaran utama ini, kisah yang diangkat dari cerita asal berjudul The Snow Queen karya Hans Christian Andersen ini amat menghangatkan hati. Iringan soundtrack lagu Let It Go yang dinyanyikan Demi Lovato ini pun bergema panjang mengiringi langkah pulang para penonton.

Advertisements

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: