Sun Tzu, David Moyes, dan Limbungnya Manchester United

MoyesCristiano Ronaldo layak marah dan mengutuki keapesannya harus menjalani hidup dan bermain bola di era yang sama dengan Lionel Messi. Penghargaan pemain terbaik dunia sepanjang tahun melalui anugerah Ballon d’Or, telah disapu bersih oleh Messi sebanyak empat kali berturut-turut (2009-2012). Sementara CR7, hanya sempat mencicipinya di masa lampau (2008) saat ia masih berseragam Manchester United.

Hal sebaliknya, David Moyes patut menyesali mengapa ia tidak hidup satu era dengan Sun Tzu pada hari ini. Sehebat apa pun petinggi Manchester United FC mengelola bisnis untuk melambungkan profit ke langit-langit, mereka tidak akan pernah mampu mentransfer Sun Tzu ke Old Trafford untuk menjadi penasihat teknis MU. Sun Tzu lahir pada 544 SM dan berpulang pada 496 SM, sementara Moyes baru “lahir” di Old Trafford pada 1 Juli 2013.

Namun, apabila Moyes beruntung di hari-hari ini berkesempatan mengenal Sun Tzu melalui cara berbeda dari bertatap muka empat mata, maka ia akan menemukan petuah emas dari sang ahli strategi jadul yang layak ia bawa ke Carrington Training Ground–kini berubah nama menjadi AON Training Complex.

Sun Tzu pernah “menasihati” Moyes agar sukses membawa Setan Merah ke klasemen puncak Liga Primer Inggris untuk meraih gelar ke-21 melalui kalimat yang diringkas, “Kenali dirimu, kenali musuhmu.” Sun Tzu amat meyakini bahwa siapa pun yang memiliki pengetahuan mendalam tentang diri sendiri dan diri musuhnya, niscaya akan memenangkan semua pertempuran.

Apakah Moyes mengenali “dirinya”? Tentu saja tidak. Fergie dan staf pelatih MU, yang telah mengenal dan bergaul dekat dengan “anak-anak merah” dalam rentang waktu yang sangat panjang, “bubar jalan” di akhir musim lalu, dan Moyes serta stafnya datang sebagai orang baru. Ibarat atlet lari estafet yang tak tersambungkan oleh sepucuk tongkat untuk menuju garis akhir. Dan, di sini perlu buru-buru dicatat bahwa Phil Neville, salah seorang staf pelatih yang dibawa Moyes dari Everton, sejatinya adalah seorang pemain yang baru saja gantung sepatu.

Setiap manusia diberi kekayaan sifat, karakter, dan ego yang tak pernah sama–bahkan bagi si kembar Rafael dan Fabio sekalipun. Semua “anak-anak merah” itu masih dalam suasana sendu kehilangan “ayah kandung” kecintaan dan kebanggaan mereka kala sang “ayah tiri” tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu rumah mereka. Dan kita semua tahu, “anak-anak merah” itu bukanlah “anak-anak” lugu dari kasta rendahan. Melainkan “anak-anak” elit yang berkubang di kelas atas dari sebuah industri glamor yang menjadikan mereka selebritas. Selama merumput di Old Trafford, mereka hanya ditaklukkan oleh “ayah” bertangan besi dengan senjata “hair driyer”.

David Moyes memang tidak gagal sepenuhnya. Ia berhasil berekonsiliasi dengan Wayne Rooney. Namun jelas bagi kita, sebuah klub sepakbola tidak pernah didirikan dengan satu pemain. Selain Rooney, masih ada 35 pemain berstatus pemain utama lainnya–termasuk tujuh di antaranya dalam status dipinjamkan ke klub lain.

Lebih inti dari itu semua, apakah Moyes juga mengenali dirinya sendiri sebagai pribadi? Saya meragukannya. Saya dihantui perasaan curiga Moyes masih mengenal dirinya dalam porsi besar sebagai “Moyes Everton”, bukan “Moyes MU”. Lebih dari 10 tahun mengasuh tim papan tengah dengan tekanan psikologis “rendah”, pastilah telah menyediakan kondisi zona aman yang panjang dan membentuk kepribadian “Moyes Everton”.

Moyes harus segera bermetamorfosis sebagai pelatih elit kelas dunia. Posisinya kini memaksanya untuk segera mengenakan baju yang lebih besar, yang saat ini membuatnya tampak kedodoran. Namun, proses ini harus ia percepat. Ada harga yang harus segera ia bayar, seperti Dr. Bruce Banner berubah wujud menjadi Hulk, tokoh fiksi superhero yang ada pada Marvel Comics. Mampukah ia?

* * *

Diskursus ini barulah membicarakan paruh pertama dari kalimat strategi Sun Tzu, “Kenali dirimu…”. Jadi, jalan masih panjang bagi Moyes. Barangkali ini adalah musim yang memang harus “dikorbankan” dengan napas lega oleh managemen klub dan jutaan pencinta MU di belahan dunia mana pun.

Namun cukup fair bagi Moyes dan pencinta Setan Merah bila harus diucapkan bahwa MU akan baik-baik saja. Sejarah, filosofi, dan mentalitas MUFC sudah mengkristal karena telah melewati kurun waktu panjang. Percayalah, MU akan baik-baik saja. Moyes telah membawa tim meraih gelar pertama di musim ini, Community Shield 2013. Piala FA masih dalam rengkuhan. Dan, Piala Champion masih membentang untuk ditapaki hingga level tertinggi. Sementara Fergie, sebagai salah seorang direktur dan duta klub, telah mulai bekerja. Jadi, pekik lagu ini belum akan padam hari ini:

Glory glory Man united,
Glory glory Man united,
Glory glory Man united,
As the reds go marching on on on!

(terima kasih untuk Caroline Mok atas Sun Tzu-nya).

@angtekkhun 6/12/13

Advertisements

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: