“Gita”

stock-photo-711106-sheet-music-10Sebermula, dengan pakaian putih-abu-abu yang masih lekat di tubuh, saya mengenal selintasan dua judul karya dari masa lampau, sebutlah ia “Gitanjali” dan “Bhagawadgita”. Yang pertama itu, adalah buku kumpulan puisi karya Rabindranath Tagore. Penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus, dan sastrawan Bengali kelahiran Jorasanko, Kolkata, India ini menghimpun 157 puisi yang diterbitkan pada 1910. Tagore adalah orang Asia pertama yang mendapatkan anugerah nobel dalam bidang sastra (1913), sehingga nama dan karyanya layak harum semerbak luas.

Kedua, mari kita tengok “Bhagawadgita” dengan cara paralel. Ia adalah bagian dari karya epik Mahabharata yang termasyhur itu. Dalam format dialog, ia dituangkan dalam rupa syair oleh Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Secara harfiah, “Bhagawadgita” berarti “Nyanyian Sri Bhagawan”. “Bhagawan” menyuratkan arti “yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan. Lebih lanjut informasi Wikipedia juga mencatat Bhagawadgita sebagai ajaran universal yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, sepanjang masa.

Di masa mutakhir, atas jasa pemberitaan meriah dari media saya mengenal dua “gita” yang terkait erat selaras dengan definisi kamus-kamus atas gita sebagai “nyanyian” atau “lagu”. “Gita” pertama adalah seorang, gadis belia penyanyi yang semula tampil malu-malu bersama Ada Band, sebelum kemudian melejit beken. Seorang lagi, pria elok yang tak kalah kentalnya berdarahkan musik dan baru saja undur dari jajaran tahun terakhir kabinet sebelum suksesi nasional. Kedua “gita” ini konon bukan hanya keren sebagaimana ditampilkan media, melainkan juga jempolan dan cemerlang bila duduk di bangku sekolahan.

Karena yang seorang sedang sibuk menempuh pendidikan tingginya, sementara sang “gita” senior telah lama melewatinya, maka perhatian publik hari-hari ini, termasuk penulis, lebih tertuju pada “gita” kedua dalam panggung yang berbeda berlatarkan tahun politik yang sedang menunggang kuda kayu.

Sesuai makna katanya, mari kita bicara tentang nyanyian, lagu. Sebagai orang awam, izinkan saya membelah lagu menjadi “musik” dan “lirik”. Musik dalam tafsir sederhana saya, adalah nada-nada yang dirangkai sedemikian rupa sehingga mengalun dan (sangat diharapkan) menghanyutkan hati pendengarnya. Kedahsyatannya, mungkin sudah tergambarkan melalui peringatan “jangan menari di gendang orang lain”. Sementara lirik, dalam posisi yang sebanding, adalah rangkaian kata-kata yang hendak menyampaikan pesan tertentu. Kekuatan kata, tak memerlukan debat baru, telah dipertontonkan semenjak masa lampau dan diperbincangkan panjang, sebutlah misalnya peramu kata bernama Chairil Anwar, orator ulung bernama Soekarno, hingga eforia trending topic di dunia Twitter.

Perihal kompetensi sang musisi terkait kedua elemen tersebut, kita menyaksikan ada sosok yang amat jago dalam menata musik an sich, sementara pihak lain berseberangan–sangat piawai dalam menata kata-kata. Dalam kemasan yang telah diprimakan, penikmat awam akan mengalami kesusahan dalam menyebutkan “musik sedang berbicara dilatari kata-kata” atau “lirik sedang berselancar menunggangi musik”.

Perdebatan ini, dalam dugaan umum, hanya akan ramai dan lelah dalam tafsir berlapis dan panjang apabila sang musisi tak kunjung angkat bicara selapangnya. Namun celakanya, kita pun dibuat mahfum atas ajaran bahwa musisi, atau pegiat seni pada umumnya, sebaiknya berlaku bijak dengan selalu menghindari haknya untuk menjadi juru bicara atas karyanya.

Terlepas dari hal tersebut, ada baiknya kita bergeser lebih lanjut. Meminjam analogi cerdas mantan wapres Jusuf Kalla, ada sisi untuk kita cermati perihal “band” dan “penyanyi”. Jika kita menuruti analogi JK ini, maka komposisinya tentu saja bisa berpeluang menjadi begini:

1. Band apik, vokalis apik
2. Band apik, vokalis apek
3. Band apek, vokalis apik
4. Band apek, vokalis apek

Secara teoritis, yang akan berjaya-raya tentu saja band apik dengan vokalis yahud. Namun, tampaknya JK masih perlu duduk lebih lama untuk menyelesaikan analoginya guna memberikan tempat pada peran gita–nyanyian, lagu–yang entah luput atau sengaja diabaikannya. Jika ini dilakoni oleh JK, maka probabilitas tiga elemen ini akan kian kompleks. Namun ada baiknya kita menyederhanakan pikiran saja bahwa sukses sebuah kelompok musisi atau penyanyi solo jelas adalah perpaduan dari pengiring terbaik bagi seorang vokalis yahud yang menyanyikan gita top markotop sehingga meraih hits.

Usai memformulasikan trisula band, vokalis, dan gita, mari kita kembali mengingat dua sosok “gita” tersebut di atas. Si gadis belia itu, tentu saja telah mendapatkan dukungan dan iringan terbaik dari sang ayah. Penampilannya, sebagaimana bisa dilihat, telah mampu memukau penonton dengan lagu yang diterima luas pendengar. Nah, bagaimana dengan “gita” yang kedua? Saya tak merasa perlu melanjutkan tulisan ini di sini. Jika Anda dirundung galau akan hal ini, silakan dilanjut sendiri membedah posisi “gita” kedua. Saya sedang tak ingin melelahkan kepala secara berlebihan seusai menanggung derita akibat kekalahan Manchester United (MU) dari Stoke City semalam.

Advertisements

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: