Ini Kriteria Capres Idaman Saya

1397637433854003768Setiap warga negara Indonesia memiliki hak pribadi untuk memformulasikan kriteria capres yang ia idamkan. Dengan caranya yang sederhana, maupun canggih. Tanpa memandang tingkat pendidikan, demografi, usia, atau jenis kelamin. Selugu apa pun ia, sepanjang ia mau berbicara, ia bebas beropini. Secuil apa pun wawasan politiknya, baik “anak kemarin sore” maupun si “tua-tua keladi”, ia bebas bersuara.

Formulasi atau opini ini, tentu saja bersifat subyektif dan menjadi hak pribadi. Oleh karena itu, tidak ada satu izin pun yang diberikan kepada siapa pun untuk mengadili pola atau gambaran pribadi ini sepanjang ia tidak bersinggungan dengan SARA dan saru.

Dengan anutan seperti ini, saya ingin menggunakan hak pribadi saya untuk menbagikan salah satu formulasi saya akan capres idaman saya pribadi. Meskipun (akan) terdengar lugu, bahkan lucu dan wagu, saya memberanikan diri untuk berkisah di sini. Namun, buru-buru perlu saya tambahkan sebelum Anda berhenti membaca paragraf ini bahwa saya mempersilakan apabila sehabis membaca tulisan ini, Anda ingin tertawa. Silakan saja terbahak-bahak, atau sekadar terpingkal-pingkal.

Kisah ini bermula cukup lampau, dan sudah lama terpendam. Bermula pada saat Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat (periode pertama) yang menyedot perhatian dunia. Pada momentum itu, saya mendapati sebuah foto yang dimuat di sebuah media massa. Foto itu memperlihatkan adegan Obama tampak berlari atau melompat kecil saat ia menaiki tangga di sebuah tempat. Tubuhnya yang ramping, meskipun dibalut jas resmi, tak menghalangi ia untuk melayangkan tubuhnya. Saya pun teringat pada para pendekar yang sedang bertarung di pucuk-pucuk pohon bambu dalam film silat “Crouching Tiger Hidden Dragon”. Diam-siam, saya berbisik dalam hati, “Kapan ya Indonesia memiliki presiden seperti itu.”

Hanya begitu. Omongan lugu di dalam hati, yang tidak cukup kuat untuk diagendakan sebagai bahan percakapan di kafe-kafe saat nongkrong. Kemudian, terpendam dalam lalu waktu yang panjang. Itu sebabnya terasa déjà vu saat beberapa waktu yang lalu ramai diperbincangkan di publik mengenai pesawat kepresidenan kita. Sebuah stasiun TV membahas secara “komparatif” pesawat kepresidenan kita dengan Air Force One milik Amerika Serikat. Untuk melengkapi berita tersebut, sebuah tayangan video dihadirkan. Tampaklah siluet sesosok tubuh ramping disorot kamera dari belakang dalam posisi menaiki tangga pesawat dengan cara berlari-lari kecil melompati anak-anak tangga pesawat. Dari anak tangga bungsu hingga mencapai anak tangga sulung.

Sekian detik kemudian, impian lugu saya yang sudah berlalu dilewati waktu itu, tergali kembali dari bilik ingatan. Lengkap dengan kalimat, “Kapan ya Indonesia memiliki presiden seperti itu.”

Saya tidak memiliki kemewahan waktu untuk berlama-lama mengulik video tersebut di Youtube, namun secara serampangan saya menemukan sebuah tayangan dalam posisi adegan yang sebaliknya. Barack Obama berlari-lari kecil turun dari pesawat. Paripurna dari atas hingga menginjak landasan bandara. Apabila Anda penasaran ingin menonton tayangan yang ini, silakan klik link ini (menit ke-8.20).

Saya lalu menghela napas. Hm… sepertinya visi (baca: “penglihatan”) saya yang lugu dan kekanak-kanakan ini, sedang menunggu hitungan waktu untuk menjadi kenyataan. 🙂

Advertisements

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: