Sudah Saatnya Pria Ikut Berperan dalam Pencegahan Kanker Payudara

KompasHealthTulisan ini merupakan salah satu tulisan terbaik dalam kompetisi blog pada micro site Caring by Sharing Kompas.com yang diadakan selama bulan Oktober 2014 dalam rangka bulan Kanker Payudara.

Penulis: Ang Tek Khun

Disadari atau tidak, perbincangan tentang kanker payudara dan upaya pencegahan serta deteksi dininya, seolah membelah perbedaan gender. Masyarakat awam menangkap kesan bahwa isu ini adalah urusan kaum hawa semata. Simbol pita dengan pilihan warna pink, seolah mempertegas “itu urusan perempuan”.

Maka, tidak heran bila perbincangan soal pencegahan dan deteksi dini kanker payudara hanya menyangkut dua hal. Pertama, hal-hal teknis seperti tata cara deteksi dini dan terapi yang harus dilakukan. Kedua, “kesan” peran minim kaum pria sebagai subjek dalam perbincangan isu ini.

Atas dasar pemikiran ini, kiranya sudah saatnya kita menggagas edukasi dan mengangkat isu peran kaum pria, terutama dalam ranah pencegahan dan deteksi dini. Ada tiga hal faktual yang layak diungkap di sini untuk meraih perhatian, serta mengusung dan menggarisbawahi alasan bagi kaum pria untuk berperan lebih signifikan. Pertama, fakta pragmatis, kedua, fakta relasi, dan ketiga, fakta medis. Mari kita perbincangkan di sini.

Tiga Alasan

Pertama, alasan pragmatis. Untuk alasan ini, kita perlu jujur dan terbuka bahwa, maaf, payudara seorang perempuan tak bisa dikatakan sebagai “aset” pribadi miliknya seorang diri. Dalam ruang privat, organ hasil desain cantik Sang Khalik ini nyatanya “berbagi” kepemilikan dengan kaum pria.

Mungkin tidak pada masa sebelum akil balik. Namun sesudahnya, payudara seorang remaja mulai menjadi “sasaran” perhatian mata kaum lelaki. Lalu pada masa pacaran, wilayah eksotik ini menjadi incaran jemari “kreatif”.

Memasuki fase pernikahan, dalam durasi panjang, setidaknya pra-menopause, bagian tubuh yang menggiurkan ini “dijajah” dan “dieksplorasi” habis dengan sepenuh hati oleh para suami. Bukankah demikian kisah nyatanya? Dan, bukankah sudah selayaknya pria dituntut “balas jasa”nya?

Kedua, alasan relasi. Dalam perjalanan hidupnya, perempuan tidak bisa lepas dari iringan kaum pria. Sebagai anak, ia diiringi sang ayah sejak lahir dan masa tumbuh-kembang hingga melepasnya sebagai perempuan dewasa yang akan membangun keluarganya sendiri. Sebagai istri, ia didampingi suami bahkan sejak masa pra-nikah dalam status sebagai pacar.

Ketiga, alasan medis. Berdasarkan data yang dirilis National Cancer Institute, pria juga berpeluang mengidap kanker payudara. Meskipun payudara pria tidak memproduksi air susu, jaringan dan sel-sel di dalamnya tetap berisiko terkena kanker.

Secara angka, kasus kanker payudara pada pria kurang dari satu persen populasi. Namun yang perlu diperhatikan bukan soal jumlah, karena kanker pada pria tetap saja akan menurunkan kualitas hidup, bahkan berakhir fatal. Kefatalan ini bahkan bisa lebih tinggi dari perempuan karena kesadaran pria masih sangat kurang, sehingga terlambat mencari pertolongan medis.

Seberapa serius kanker payudara pada pria?

Pada tahun 2013, ada lebih dari 2.000 pria yang terdiagnosa kanker payudara dan lebih dari 400 pria tersebut bisa meninggal dunia karena keganasan penyakit ini. Salah satu penyebabnya adalah pria cenderung tak acuh terhadap gejala kanker payudara.

“Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah pria menganggap mereka tidak memiliki payudara, sehingga mereka jarang memperhatikan perubahan yang terjadi di payudaranya,” ungkap Dr. Steven Libutti dari Montifiore Einstein Center for Cancer Care.

The American Cancer Society memperkirakan setiap tahun ada sekitar 1.990 kasus baru kanker payudara pada pria dan menyebabkan sekitar 480 kematian. Perkiraan angka harapan hidup dalam lima tahun untuk kanker payudara pria pada stadium awal adalah 75-100%, stadium menengah 50-80%, dan stadium lanjut 30-60%.

Sekitar 350 pria di Inggris didiagnosis mengidap penyakit ini setiap tahun, dibandingkan 48 ribu pada perempuan. Diketahui bahwa kerusakan dan perubahan pada gen tertentu turut menjadi penyebab dari 10% kasus tersebut, sedikit lebih besar daripada yang terjadi pada perempuan. Pada pria, hal itu meningkatkan risiko kanker payudara pria hingga 50%.

Dr Nick Orr dari Breakthrough Breast Cancer Research Centre di Institute of Cancer Research di London mengatakan, “Penelitian ini menunjukkan lompatan besar dalam pemahaman kita akan kanker payudara pria.”

Menurut US National Cancer Institute, kanker payudara laki-laki paling sering terjadi pada pria antara usia 60 dan 70. Faktor risikonya mencakup paparan radiasi, riwayat keluarga kanker payudara, mutasi genetik, dan memiliki tingkat estrogen yang tinggi, yang dapat terjadi pada penyakit seperti sirosis atau sindrom Klinefelter.

Direktur Bedah Onkologi di Rumah Sakit Abington AS, Christopher Pezzi memaparkan ciri-ciri pria yang terkena kanker payudara antara lain sering mengalami nyeri puting, posisi puting menjadi terbalik, terdapat benjolan, dan perubahan pada kulit yang menutupi payudaranya.

Faktor risiko kanker payudara pada pria meliputi riwayat kanker payudara dalam keluarga, tingginya kadar hormon estrogen, konsumsi alkohol, obesitas, dan paparan radiasi. Kegemukan pun menjadi faktor risiko, karena sel-sel lemak dapat mengubah testosteron menjadi estrogen. Sedangkan alkohol bisa mengganggu fungsi hati.

“Padahal, liver membantu metabolisme estrogen. Bila fungsinya terganggu, maka metabolisme estrogen tidak berjalan baik,” ungkap Ben Park, peneliti kanker payudara di Sidney Kimmel Comprehensive Cancer CenterJohn Hopkins Medical School.

Sementara, tanda dan gejala kanker payudara pada pria sama seperti tanda dan gejala kanker payudara pada perempuan. Deteksi dini dan pengobatan cepat serta tepat, juga menentukan harapan hidup yang besar pada pria dengan kanker payudara.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan pria, di antaranya tidak mengonsumsi alkohol dan menjaga berat badan tetap normal melalui pola makan sehat serta olahraga teratur 4-5 hari seminggu.

Humas Yayasan Kanker Payudara Jakarta (YKPJ), Bambang Purwanto, mengimbau kepada pria untuk terus memeriksa payudaranya, misalnya melihat adanya benjolan atau nyeri di payudara. Jika menemukan benjolan atau sering merasa nyeri, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Bagaimana pria menjadi mitra strategis?

Dengan fakta-fakta tersebut, diharapkan dapat mengubah sikap mental pria dan juga perempuan untuk saling menjaga, sharing and caring, khususnya pria sebagai pendukung kaum perempuan yang berisiko lebih tinggi.

Dengan memanfatkan alasan faktual pragmatis dan alasan relasi di atas, tidak ada alasan untuk tidak melibatkan pria; atau pria menolak berperan lebih dari saat ini. Pria dapat berperan dalam dua periode perjalanan hidupnya:

1. Pria sebagai ayah: Pedulilah pada putri-putri Anda
2. Pria sebagai suami: Pedulilah pada pasangan Anda

Kepedulian dari pria amat bermakna secara psikologis. Membuat kaum perempuan merasa didampingi, disertai, dan memiliki rekan melangkah dalam kehidupan—dalam suka maupun duka, di jalan terang maupun remang.

Dengan saling peduli antarpria dan perempuan, diharapkan pencegahan dan deteksi dini kanker payudara akan menjadi bagian integral dalam hidup keseharian dan membangun ketahanan keluarga dalam hal kesehatan. Di sinilah letak “saling” menjadi kian bermakna dalam kehidupan keluarga.

Catatan: Disalin dari Kompas.com kanal Health
Advertisements

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: