Seseruan dalam Kumpul Blogger: Selain Selfie, Jangan Lupa Belajar

00

Dunia ini datar. Ups, jangan marah dulu. Ini bukan kalimat saya, tapi Thomas L Friedman, melalui judul bukunya The World Is Flat yang membahas tentang globalisasi pada abad ke-21. Kemajuan yang dicapai membuat dunia menjadi hamparan lapangan yang rata bagi siapa saja yang (siap) memasukinya. Kehadiran dan penguasaan akan Teknologi Informasi, menjadi kunci yang tak terelakkan.

Di sinilah keuntungan apabila menjadi blogger. Meski tampak lusuh dan begajulan—eksis narsis berpedang tongsis—blogger kan berada di posisi garda terdepan mengambil bagian dalam penggunaan Teknologi Indonesia (baca: aplikasi media sosial dan pendukung lainnya). Jika tidak, akan terjadi seperti yang pernah diwanti-wantikan oleh Hermawan Kartajaya.

Dalam bukunya New Wave Marketing (GPU, 2008) tokoh marketing yang mendapat julukan Guru ini ngomong bahwa memang Christoper Columbus yang menemukan Dunia Baru (1492) saat mengarungi Samudra Atlantik, tapi Amerigo Vespucci-lah, salah satu di antara pelaut lain yang menelusuri rute ini, orang pertama yang menyatakan bahwa Dunia Baru tersebut bukanlah bagian dari benua Asia—melainkan Amerika! Amerigo bukan-lah si penemu, tapi namanya yang diabadikan menjadi nama benua itu: Amerika!

Mau contoh lain? Masih di buku yang sama, Hermawan kemudian mengisahkan, sebelum Friedman ngomong dan terkenal dengan The World Is Flat (2005), sebenarnya sudah ada orang Jepang bernama Kenichi Ohmae yang memiliki pandangan “mirip” melalui bukunya The Mind Of The Strategist (1982). Jadi, dalam bahasa enteng, enggak penting banget siapa yang nemu dan ngembangin Internet dan aplikasi-aplikasi canggih-populer-mendunia lainnya, yang penting siapa yang bisa nemu “emas” melaluinya.

01

Kumpul seru blogger Yogyakarta, bikin ngiri kan? (Foto: @angtekkhun)

Nah! Kesimpulannya, walaupun blogger adalah kategori orang yang berada di posisi depan dalam penggunaan Internet dan “turunan”nya yang mutakhir, apabila berhenti belajar dan mengembangkan diri, ia akan “sekadar” menjadi Columbus atau  Ohmae. So, itulah yang menarik dari acara Ngobrol Bareng Blogger Yogyakarta edisi September 2016. Dua narasumber yang ditampilkan, cukup unik dan menambah wawasan serta menginspirasi pengembangan diri para blogger. Maka, usai selfie, wefie, santap malam, seseruan gaya di photobooth gratisan yang sediakan Usagi, diiringi live music dengan sejumlah lagu galau di resto Roaster & Bear Jalan Mangkubumi (baca: Margo Utomo), “belajar time” pun tiba.

“Emas” Penemuan Yehezkiel Cyndo

Tidak seperti biasanya, yang apabila ada acara beginian hampir selalu diisi dengan topik pelatihan menulis, kali ini di hadapan sekitar 50-an blogger yang juga berasal dari luar Yogyakarta, panitia mengusung pembelajaran dari area lain yaitu dunia kreatif. Kisah dunia corat-coret yang dibagikan bukanlah berasal dari keterampilan bermain alfabet, melainkan ranah seni rupa. Seorang Artpreneur bernama Yehezkiel Cyndo, didaulat untuk berbagi inspirasi.

02-yehez

Ini dia.. siapa sih Yehezkiel Cyndo (Foto: @angtekkhun)

Cowok jebolan Desain Produk UKDW ini memulai “karier” kreatifnya dengan membuat sketsa dengan objek ransel, sebelum merambah lebih luas dan menjadikan media sosial, khususnya Instagram, sebagai galeri dan panggung unjuk keterampilannya. Hasilnya, ia kemudian dihampiri peminat dan pemesan. Maka, pintu menuju “penemuan emas”, meminjam sebutan Hermawan Kartajaya, sebagaimana diraih Amerigo, pun terengkuh dalam genggamannya.

Tentu jalan menuju ke sana tidaklah instan. Dengan latar pendidikan awal SMK (otomotif) dan kerja selama empat tahun, yang disebutnya sebagai “montir”, Yehezkiel kemudian mengembangkan hobinya yang berbasis keterampilan jari. Yehezkiel memanfaat dengan optimal layanan aplikasi jejaring sosial yang tersedia. Melalui aplikasi ini ia membuka diri dan menjalin komunikasi dengan pihak peminat, sebagai langkah awal menuju transaksi bisnis.

03-mokumoku

Yeay! Mokumoku cantik ala Yehezkiel Cyndo (Foto: @angtekkhun)

Anda tahu scrapbook? Nah,  ini termasuk jenis bisnis awal yang ditekuninya, sebelum merambah ke kepiawain tangan lain semisal pembuatan mokumoku dan mural untuk kafe atau mal. Kini Yehezkiel telah melangkah lebih jauh, ia telah dibekali dengan sebuah studio untuk berkarya. Melalui studio ini, termasuk aktivitas outdoor lainnya, ia membuka diri untuk berbagi ilmu dengan siapa saja yang tertarik dan mau belajar bareng untuk mengembangkan diri.

“Sebuah keterampilan, apabila terus-menerus diasah, tanpa menghiraukan apakah kita berbakat atau tidak, niscaya akan membuahkan hasil,” itu pesan utama Yehezkiel buat para blogger dalam sesi yang diakhiri dengan acara tanya-jawab yang gayeng.

“Emas” Demografi Suguhan Richard

Perbincangan di sesi kedua beralih ke topik yang agak teknis, namun patut dikenali oleh blogger agar dalam pergaulan keseharian tak terkesan cupu. Richard Gunawan Jusup, anak muda yang berkecimpung dalam Divisi Pengembangan Produk Transaksi Perbankan, tampil memperkenalkan produk e-money (dompet/uang elektronik) berbasis handphone/smartphone, bernama Sakuku.

04-demografi

Noh, lihat tuh komposisi kekinian demografi Indonesia (Foto: @angtekkhun)

Mengapa atau bagaimana Sakuku menemukan jalan lahirnya? Ini tak lepas dari tuntutan zaman, yang berangkat dari situasi demografi di negara kita. Dalam paparannya, terlihat jelas dominasi Next Generation dan Gen-Y dalam peta demografi kekinian. Gen-Y, dengan rentang usia 20-35 tahun, menguasai angka 62 juta jiwa, sementara Next Generation diisi oleh generasi dalam rentang usia dibawah 20 tahun yang mendominasi dengan jumlah 80 juta jiwa.

Generasi seperti ini memiliki cara yang khas dalam meniti kehidupan bila dibandingkan dengan pendahulunya. Produk-produk yang menyertai maupun yang harus dihadirkan pun harus fit dengan kekhasan generasi ini. Ini yang kemudian disiasati oleh Sakuku, khususnya dalam ranah mengelola penggunaan keuangan sehari-hari. Aplikasi dibuat sedemikian mudah, agar dapat di-install ke smartphone oleh siapa saja pengguna handphone, baik melalui App Store maupun Play Store.

Diluncurkan sejak 2015, misi layanan dengan tagline “bikin hangout kamu makin all out” ini adalah mempermudah aktivitas pembayaran, baik untuk bayar belanja merchant offline dan online, transfer, split bill, isi pulsa, Tarik tunai dan transaksi perbankan lainnya! Didukung oleh banyak merchant dengan berbagai promo menarik, kita jadi agak tenang bila sampai ketinggalan dompet, sepanjang enggak lupa bawa handphone 🙂

05-richard

Richard Gunawan Jusup in action (Foto: @angtekkhun)

Menjawab keingintahuan para blogger, lebih jauh Richard, yang menggeluti Aspek Pengembangan Mobile dan Internet Banking, menjelaskan bahwa ada dua jenis Sakuku berdasarkan saldo maksimum, yaitu Sakuku dengan limit Rp1.000.000,- dan Sakuku Plus dengan batas saldo Rp5.000.000,- Top up/setoran maksimum yang diperkenankan, tidak boleh semena-mena, hanya Rp20.000.000/bulan. Menariknya, Sakuku tidak memberatkan kalangan anak kos sekalipun, karena setoran awal dan setoran minimum yang disyaratkan hanya Rp10.000,- Dan, saya mencatat dengan baik, selain mudah dan praktis, ini nih yang paling disukai blogger: Gratis/bebas biaya administrasi bulanan 🙂

Masih banyak hal detail yang disampaikan dengan mantap oleh Richard, namun semua itu—bila Anda penasaran—dengan mudah bisa dibaca di SINI. Atau, simak saja serial tutorial 2 menit yang bertebaran di Youtube. Yang paling pasti, sebagai blogger, Anda harus bisa memetik manfaat dari sesi ini; baik sebagai wawasan dalam berinteraksi dalam keseharian dengan Next Generation dan Gen-Y maupun tampil prima sebagai pengguna. Jangan pasrah sebagai “generasi imigran”, masak kalah sama anak-anak Digital Native—kelompok yang saat mulai belajar menulis sudah mengenal Internet.

06-penutup

Buah karya Yehezkiel Cyndo, dikerjakan di tengah acara (Foto: @angtekkhun)

Lentur Adaptif, Doyan Belajar

Ketika acara usai, salam-salim, cekakak sana-sini, dan foto-fotoan (lagi!), saya pun membawa pulang dua pesan sederhana namun kuat; bahwa sebagai apa pun kita dalam kehidupan yang bergerak kencang ini, dibutuhkan kemampuan untuk (1) lentur adaptif dan (2) doyan belajar. Dengan dua poin sederhana ini, niscaya kita dapat eksis menyongsong datangnya era atau tipe generasi apa pun di depan mata.

Oya, kembali ke buku Hermawan Kartajaya itu, ahh… saya jadi ingat beliau menulis di sana: Christoper Columbus is a great Sailor, but Amerigo Vespucci is a Great Marketer! Dan di bagian lain: Kenichi Ohmae is a Great Strategist, but Thomas Friedman is a Great Marketer! Jadi, masih mengutip kata Hermawan, “dunia masih tetap bulat kok, hanya pasarnya yang jadi datar!” Dalam bahasa saya sih, “persaingannya yang jadi datar”.

Anda mau yang mana—jadi Christoper Columbus atau Amerigo Vespucci, Kenichi Ohmae atau Thomas Friedman? Hmm… rasanya bukan hanya blogger ya, setiap orang pun harus membuat pilihan seperti ini—yang cerdas tentunya. [] BCA Sakuku

Advertisements

Tags: , , , ,

2 Responses to “Seseruan dalam Kumpul Blogger: Selain Selfie, Jangan Lupa Belajar”

  1. @eviindrawanto Says:

    Emas selalu teronggok di depan kita, pandai-pandai kita saja mencangkul agar emas tersebut bisa digunakan untuk keperluan kita ya pak Thekun. Pun demikian yang terjadi di dunia blogger. Huruf-huruf dan kalimat sudah tersedia, Tinggal bagaimana kita merangkai dan menggunakan agar huruf dan kalimat tersebut berubah jadi emas ya.

    Suka sangat membaca posting seperti ini. Membuka wawasan dan memperdalam pemahaman… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: