Unboxing Zuper Krunch: Cara Lain Santap Ayam Bonus Kriuk

June 6, 2017

00 Header

Siang telah merangkak tinggi saat saya tiba di KFC UGM, Yogyakarta. Saya melirik sisi kanan antrean dan menjumpai poster bertuliskan Zuper Krunch. Dengan ekor mata, saya membaca. “Kriuknya Berasa Banget!” “Daging Ayam Utuh 100% Super Zauce” “Harga Mulai Rp20.000”. [Mengapa diperlukan pernyataan “Harga Mulai Rp20.000″? Sebab pada setiap cabang, dalam maupun luar kota, harga Zuper Krunch berbeda-beda.]

Aha! Sebelum tiba giliran dalam antrean, pilihan saya sudah berlabuh di menu ini. Yup, saya butuh menu nanggung. Bukan untuk makan siang yang telah lewat, tapi berfungsi mengganjel karena makan malam nanti saya duga akan larut dalam acara yang akan saya hadiri sebentar lagi.

“Silakan…” Perempuan berseragam di depan saya menyambut hangat, dengan lengkung senyum yang menyegarkan. Rachma, demikian nama yang terbaca di name tag khas KFC, menjawab pertanyaan saya. “Zuper Krunch itu, burger. Tertulis ‘Harga Mulai Rp20.000’ karena bisa dibeli hanya burgernya. Kami juga menyediakan paket, burger plus french fries dan minuman dengan harga Rp32.000.” | Selengkapnya

Advertisements

Simsalabim Clitoria Ternatea! Bunga Telang pun Jadi Mocktail untuk Takjil

May 31, 2017

004b

Suatu kali kutemukan
Bunga di tepi jalan
Siapa yang menanamnya
Tak seorang pun mengira

Bunga di tepi jalan
Alangkah indahnya
Oh kasihan kan kupetik
Seb’lum layu

~Koes Plus

Segala sesuatu ada waktunya. Semesta kerap mengatur sedemikian elok, sehingga kuliner pun membentuk pola, perilaku, dan habitat yang khas. Konvensi tanpa kongres ini menjadi laku umum, meskipun tak selalu begitu, terutama saat kuliner telah riuh menjadi bukan sekadar memenuhi perut keroncongan.

Sate Klatak di Yogyakarta misalnya, berkonotasi santapan malam dan terletak di Selatan kota. Tak urung, banyak yang taat asas. Namun, tidak demikian dengan warung sate bernama Nglathak ini. Oleh pemiliknya, ia digeser buka sejak siang dan diletakkan sebagai santapan di “tengah kota”. Sumbu peta ini XXX memberi tahu kita bahwa ia masuk dalam pusaran kampus … | Selengkapnya

Zaskia Mecca Mati Gaya, Hanung Bramantyo Turun Tangan, Lahirlah MAMAHKE Jogja

May 20, 2017

03

Kita kerap dan secara organik gemar diikat oleh tali emosi. Jika membelit dua insan, maka “move on” adalah dua kata yang terasa patut dienyahkan dan sia-sia untuk diperdebatkan. Kekerabatan pun demikian. Meski tak luput getas dan getir, ia terus dibangun—seperti Presiden Jokowi rajin membangun infrastruktur 😉

Ini contoh sederhana dan hal lazim di negeri ini. Dua orang yang saling mencintai, tidak menuju gerbang pernikahan sebagai 1 + 1 = 2. Terdapat dua “serikat persaudaraan” yang riuh mendeklarasikan “kita bersaudara”. Yup, bukan sekadar menyatunya dua orang. Na… | Selengkapnya

Indi, Pengarang Novel Best Seller, Mengajak Anda Menulis

January 15, 2017

ang-tek-khun-00

Saya menemukan nama Indi, untuk pertama kalinya, tercantum di sampul sebuah buku fiksi berukuran mungil dengan desain cover unik. Buku ini tidak ramai dalam riuh perbincangan, demikian juga nama Indi bukanlah bintang percakapan di planet pengarang. Idem dito penerbit buku ini, Homerian, bukanlah penerbit yang mendapat lampu sorot di dunia perbukuan. Homerian lebih dikenal sebagai, saya sebut saja “balai baca” sederhana, yang di halamannya digunakan pihak lain berjualan Lotek, sejenis makanan terkenal, tempat saya kerap mampir di Yogyakarta.

Novel tipis dan sederhana itu, Waktu Aku Sama Mika, kelak melejit menjadi buku best seller yang mengalami cetak ulang belasan kali. Dari layar kertas, novel ini kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Lasja Fauzia Susatyo dengan judul Mika, yang rilis pada Januari 2013 dan dibintangi oleh Vino G Bastian dan Velove Vexia. Film ini, tak kalah dengan novelnya, turut menyedot perhatian banyak penonton dan sempat diputar di IFF Melbourne Australia. Sinopsis Waktu Aku Sama Mika dapat Anda baca di laman Wikipedia ini. | Selengkapnya

Semalam di Phuket, Antara Tom Yam dan Singkong Thailand

January 11, 2017

sharonang

Sawasdi khap/kha!

Ada banyak kuliner Thailand yang favorit dan memikat lidah sang penyantap lahap dari berbagai negeri. Sebut saja Pad Thai, mi bersanding tauge yang ditingkahi perca telur dan berhias lengkung udang. Bagi penyuka nasi goreng, mungkin akan melirik Khao Pad Poo. Semerbak bunga melati yang meruak di antara butir nasi ini, dimanjakan perasan jeruk nipis dan saus ikan khas Thailand. Di pengujung santap, tak salah bila memilih Kha Niew Ma Muang. Dessert ketan ini disajikan bersisian potongan mangga segar dan krim santan manis. Yummy!

Namun, di antara rentang menu yang menjadi favorit Anda atau bukan, saya pasti akan mengapitnya dengan Tom Yam dan Singkong ala Thai. Saya hampir sepenuhnya yakin, Tom Yam akan selalu naik podium juara dan merebut tempat istimewa di meja makan. Sup khas Negeri Gajah Putih dengan cita rasa asam-manis-pedas ini ibarat “Duta Besar” Thai Food yang berpendar ke berbagai pelosok dunia. Kekayaan rasa yang diusungnya, memeriahkan lidah seperti anak-anak girang meneriakkan, “Om Telolet Om!”

Read the rest of this entry »

Diselamatkan uberMOTOR di Jakarta, Kini Si Kuning Hadir di Yogyakarta

December 27, 2016

ubermotor-01

JARUM jam berdetak beranjak kian tinggi. Cerita di meja makan sebuah resto di Central Park Jakarta, belumlah usai. Saya telah mengulur waktu beberapa saat sebelumnya, maka kali ini—dengan berat hati—tak ada lagi toleransi. Di era kini, Argo Lawu jurusan Gambir-Yogyakarta tak mungkin lalai untuk tepat waktu.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan bila semua berjalan lancar. Namun sayangnya, tidak demikian yang terjadi. Apps layanan roda dua yang saya nyalakan, tidak mendapat sambutan. Beralih ke layanan roda empat, tak ada kabar lebih baik. Di antara dua pilihan ini, saya harus bergegas bukan hanya berpindah pintu keluar; melainkan juga beralih area mal.

Selepas bebas dari gedung itu, yang terpapar sebagai pemandangan adalah padatnya lalu lintas yang tak memberi harapan. Hati saya ciut dan sibuk mengusir bayangan cemas bakal ketinggalan kereta dan harus menginap semalam lagi di Jakarta, dengan agenda nganggur berbiaya kamar hotel.

Read the rest of this entry »

Peabo Bryson Nyanyi, Hujan pun Reda di Yogyakarta

December 2, 2016

04

Baby, can you stop the rain from falling
Won’t you chase my clouds away
I’d give anything to see the sun again
Only you can stop these tears from falling
I can’t face another day
Baby, can you stop
Can you stop the rain, oh oh

Peabo Bryson menyanyikan lagu “Can You Stop The Rain”, dan hujan pun reda di Yogyakarta. Demikian canda A. Tony Prasetiantono, promotor Economics Jazz, yang juga pengamat ekonomi dan dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (Yogyakarta) saat membuka acara konferensi pers beberapa jam lalu yang dihadiri jurnalis media mainstream dan online, termasuk … | Selengkapnya