Semalam di Phuket, Antara Tom Yam dan Singkong Thailand

sharonang

Sawasdi khap/kha!

Ada banyak kuliner Thailand yang favorit dan memikat lidah sang penyantap lahap dari berbagai negeri. Sebut saja Pad Thai, mi bersanding tauge yang ditingkahi perca telur dan berhias lengkung udang. Bagi penyuka nasi goreng, mungkin akan melirik Khao Pad Poo. Semerbak bunga melati yang meruak di antara butir nasi ini, dimanjakan perasan jeruk nipis dan saus ikan khas Thailand. Di pengujung santap, tak salah bila memilih Kha Niew Ma Muang. Dessert ketan ini disajikan bersisian potongan mangga segar dan krim santan manis. Yummy!

Namun, di antara rentang menu yang menjadi favorit Anda atau bukan, saya pasti akan mengapitnya dengan Tom Yam dan Singkong ala Thai. Saya hampir sepenuhnya yakin, Tom Yam akan selalu naik podium juara dan merebut tempat istimewa di meja makan. Sup khas Negeri Gajah Putih dengan cita rasa asam-manis-pedas ini ibarat “Duta Besar” Thai Food yang berpendar ke berbagai pelosok dunia. Kekayaan rasa yang diusungnya, memeriahkan lidah seperti anak-anak girang meneriakkan, “Om Telolet Om!”

angtekkhun-1a

Peta Pulau Phuket (Olah grafis: angtekkhun)

Tom Yam menempati pojok istimewa di galeri hati saya. Ia kerap mengingatkan saya pada almarhum ayah, serta diam-diam menerbitkan rindu pada kampung halaman karena godaan untuk mencecap beragam kuliner masa kecil di belahan negeri yang disebut orang sebagai Indonesia Timur.

Dalam benak kanak-kanak, saya tak pernah paham mengapa kala tubuhnya mulai terasa tak sehat, ayah akan membawa sebungkus mi instan ke dapur. Seraya menanti mi itu matang, beliau akan melindas dengan sendok satu atau dua butir cabai rawit di piring. Semerbak aroma pedas cukup menyesakkan hidung mungil anak-anak. Jika telah matang, mi akan diceburkan dengan bahagia ke dalam piring.

Lalu, terlihatlah pemandangan yang menakjubkan bagi saya. Beliau menyantap lahap hidangan sederhana itu hingga tandas. Alhasil, keringat mengucur dan mata Ayah akan memendar, sambil sesekali terdengar keciprak lidah akibat pedas. “Kalau sudah berkeringat seperti ini, Ayah pasti tidak jadi sakit,” ujarnya.

Ketika tubuh saya mulai besar, saya pun belajar untuk akrab dengan rasa pedas. Kelak kemudian hari, saya kepincut pada Sup Ikan Kuah Asam khas Minahasa. Sup warisan Kawanua ini yang kemudian mengantar saya berteman dengan Tom Yam. Kuncinya sederhana: Panas, asam, pedas! Itulah Tiga Sekawan yang menjadi karpet merah, menyambut antusias kala untuk pertama kalinya saya mengenal Tom Yam.

angtekkhun-01

Salah satu restoran khusus masakan Thailand di Yogyakarta. Foto Raja dan Ratu tak tertinggal untuk dipajang (Foto: angtekkhun)

Sebagai anak perantau di tanah Jawa, kerinduan akan Sup Ikan Kuah Asam kerap terbayarkan melalui Tom Yam! Lebih jauh, kesempatan berharga tiba bagi saya untuk berkunjung ke Bangkok dan sekitarnya, disusul hadiah ke Phuket yang saya peroleh dari Kompasiana. Maka, lengkaplah kebahagiaan yang diraih oleh lidah saya.

Kesempatan emas menyantap Tom Yam di beberapa tempat di negeri asalnya, memberi saya kumpulan keping gambaran lebih utuh. Saya pun mencandrai beragam rasa dan menarik pembelajaran elok dari Thai food ini.

Tom Yam: Guru dan Juru Sehat, Kebhinekaan dan Demokrasi

Komponen herbal yang terkandung dalam racikan Tom Yam, sebut saja yang sangat khas, yaitu serai/sereh, daun jeruk, dan cabai yang beradu padu, membuat hidangan ini memercik rasa selangit. Diseruput kala panas, ia akan mengentakkan irama hidup Anda. Dalam bahasa keren, Tom Yam tak ubahnya “mood booster” mujarab saat kita merasa lesu.

Jika karena sesuatu dan lain hal perasaan Anda sedang “biru” atau dilanda “galau” dan kehilangan gairah, cobalah pembangkit jiwa ini. Tom Yam akan mengajak Anda merasai semacam terapi kejut bagi indra pengecap. Jelas Tom Yam bukan psikolog dan tidak akan menyelesaikan masalah pribadi Anda, tapi dia dengan ikhlas mengajak Anda untuk bangkit dan berangsur mengusir gundah.

angtekkhun-02

Tom Yam versi lokal yang bisa dijumpai di Yogyakarta (Foto: angtekkhun)

Untuk kesehatan? Pasti. Tom Yam yang rajin menampilkan udang misalnya, mungkin tidak kita sadari bahwa udang “mengandung protein komposisi asam amino yang sangat lengkap dan sangat cocok dikonsumsi bagi Anda yang aktif olahraga angkat beban karena protein padatnya dibutuhkan untuk keseimbangan homocysteine untuk pertumbuhan otot. Bagi yang sedang diet, udang cocok sebagai menu karena mengandung sedikit kalori, dan nutrisi lengkapnya mampu memaksimalkan fungsi organ tubuh,” tulis website Sehatplus.

Berdasarkan kandungan herbal, kita jumpai serai/sereh yang konon memberi kita belasan manfaat, seperti menurunkan tekanan darah tinggi, mencairkan lemak, dan mengatasi anemia. Antioksidan, antiseptik, dan efek diuretik di tubuh serai/sereh bermanfaat untuk detoksifikasi. Kandungan magnesium, fosfor, dan folat menjadi nutrisi bagi perkembangan dan fungsi sistem saraf. Dan banyak lagi bila Anda ingin menelusurinya dan mengungkap bahan-bahan lainnya.

angtekkhun-03

Variasi lauk pada olahan Tom Yam (Foto: angtekkhun)

Tom Yam juga mengajarkan kebhinekaan, baik dari sisi komposisi racikan yang melambungkan selera, maupun sebaran kesukaan dari orang-orang beragam etnis dan negara tempat ia diterima dengan tangan terbuka. Tom Yam mempersatukan banyak kepelbagaian. Ia bukan saja sukses disambut di negara-negera Asia, pun di belahan dunia lain.

Bagi saya, Tom Yam mengajarkan demokrasi, karena tidak ada standard baku atau narasi tunggal bagi bagaimana ia diramu dan menghasilkan rasa. Saat berkunjung selama 3D2N di Bangkok misalnya, kami diajak menyantap Tom Yam sebanyak tiga kali di tempat yang berbeda. Jangan terkejut bila di negara tempat ia lahir, di tiga kesempatan berbeda itu, tak ada rasa Tom Yam yang sama.

Tom Yam pun rela bila Anda mengganti kandungan lauk di dalamnya. Di negeri asalnya, Tom Yam bisa menghadirkan udang (tom yum goong), ayam (tom yum gai), ikan (tom yum pla), maupun makanan laut yang dicampur (tom yum talay atau tom yum po taek), serta jamur. Tom Yam pun tak akan menolak bila Anda menghadirkan muatan lokal (mulok) semisal menambahkan jengkol atau petai misalnya.

Dari Lagu Koes Plus ke Singkong ala Thai

Saat tiba di pengujung santap, Singkong ala Thai yang terasa legit tak akan luput dari pilihan saya. Tak ada alasan khusus, kecuali mungkin karena kedekatan singkong dalam kehidupan serta “budaya” makan singkong yang telah akrab sejak masa kecil saya di Donggala. Saban siang menjelang petang, orang tua di rumah kerap menyajikan singkong kukus atau goreng, bergantian dengan jagung rebus dan aneka buah lainnya.

Namun, ada kisah lain yang membuat saya kita lekat dengan singkong. Mulanya, karena saya takjub dengan lirik lagu Koes Plus yang terdengar di masa kanak. Anda mungkin tahu penggalan ini lagu berjudul Kolam Susu ini:

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Kayu jadi tanaman? Pertanyaan ini terjawab saat saya hadir di kebun dan untuk pertama kalinya melihat masa tanam pohon singkong. Dari satu batang tubuhnya, dipotong-potong sepanjang kira-kira 20 cm, lalu dicocolkan ke dalam tanah. Begitu! Hanya, hanya begitu! Dari tancap-tancap “kayu” kita, kelak tumbuh pohon yang menghasilkan singkong. Wow!

angtekkhun-04

Singkong legit ala Thai (Foto: angtekkhun)

Sajian Singkong ala Thai ini tentu tidak seudik yang saya alami. Kami biasa menyantap singkong rebus atau goreng dengan iringan sambal ikan teri atau sambal tomat. Sementara Sweet Cassava asal Thailand ini dilumuri fla dan bila diperlukan akan ditaburi keju parut. Seusai santap penutup dengan singkong ini, maka jalan menuju pulang pun terasa lebih sigap.

Semalam di Phuket

Itulah penggal terakhir kisah yang lahir dari jamuan kecil makan malam sederhana kami sekeluarga di akhir pekan sebelum ini. Ingatan yang membayang di benak saya saat kami duduk di bangku kayu dan membuka-buka lembar menu serta menanti sajian diselingi percakapan ringan.

angtekkhun-05

Semua tulisan dalam dua bahasa: Inggris dan Thailand (Foto: angtekkhun)

Ketika menebar pandangan ke sekeliling, kenangan saat ke Negeri Gajah Putih itu melintas seronok meminta perhatian. Pula, lembar-lembar kenangan menyusuri jalanan ramai atau pantai di Phuket, tak terhindar mencuat secara kami bersantap malam di resto bernama sama—Phuket.

angtekkhun-06

Phuket, di sini kami bersantap malam sekeluarga di akhir pekan lalu (Foto: angtekkhun)

Jaringan rumah makan khas Thailand yang beroperasi luas di Yogyakarta ini kerap memanggil-manggil dan menggoda saya untuk menjemput memori yang tersimpan rapi di bilahan benak. Namun kami ini saya tak mengusiknya, membiarkannya menjembar agar kisah ini bisa saya tuliskan.

Khawp khun khap / kha!

Twitter: @angtekkhun
Facebook: angtekkhun
Instagram: @angtekkhun1

UPDATE 19/01/19:
Terima kasih kepada Tourism Authority of Thailand (TAT) Jakarta dan http://www.yukmakan.com yang telah menetapkan artikel ini sebagai bagian dari pemenang THAI FOOD Writing Challenge Competition 2017.

00-winner

Advertisements

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: